23 July 2007

Researching Indonesia: A Guide to Political Analysis

by Leonard C. Sebastian

Journal article by Leonard C. Sebastian; Contemporary Southeast Asia, Vol. 26, 2004

Book title: Researching Indonesia: a Guide to Political Analysis. By Gerald L. Houseman. Lewiston, New York, USA: The Edward Mellen Press, 2004. Hardcover: 186pp.

If the current U.S. malaise in the Middle East represents in one sense the inability of policymakers to go beyond their ethnocentric worldview since September 11, 2001 then in another sense another abiding concern is whether U.S. foreign policy prescriptions in the future will be imaginative enough to secure its interests as well make the world a safer place. With U.S. interests so wide in scope and its interactions in an ever changing world so complex, will the next generation of foreign policy advisors be equipped adequately to provide sound advice to future administrations? The empirical evidence is worrying. Area studies pre-September 11 had collapsed significantly since the 1980s and these worrying trends have accelerated since the end of the Cold War. Indeed, in view of the apparent inability of U.S. policymakers to comprehend the complex world around them, if ever a Senate inquiry was convened to assess the U.S. responses post-September 11, an urgent recommendation should be that Area Studies be designated a strategic national priority.

Take for example Indonesian studies. Would a current academic audit discover that Indonesian language courses at U.S. universities are gravely endangered because of plummeting enrolments? Could America's advanced linguistic skills base in Bahasa Indonesia be lost within the next 10 years? Is there a possibility that the U.S., once a world leader in the teaching of Indonesian language and studies, producing many of the key scholars in the field, allow the progressive decline of a field once so rich in diverse scholarly perspectives? Such diverse research ranged from the policy-related work of Pauker at Rand and Glassburner at Berkeley, the powerful historical analysis of Benda at Yale, Geertz's remarkable contributions to anthropology at Princeton, and of course the eclectic group of mavericks led by Kahin at Cornell. It takes close to 10 years for a scholar to build the advanced linguistic capability and the networks necessary to lay the groundwork for serious academic research. More importantly, there remains the critical need to train the next generation of young Americans in order to lay the foundation of skills necessary for students to he equipped to succeed in the fields of diplomacy and commerce relating to Indonesia.

A cursory glance of the annotated bibliography in Houseman's book will indicate that with one or two exceptions, the bulk of the American scholars whose works are cited either are retired, close to retirement or, like one of the early leading lights (George McT. Kahin), sadly no longer with us. Where are their replacements? If Southeast Asia is as Colin Powell describes "the second front in the war on terror", and Indonesia is the focal point of the Jemaah Islamiyah movement, the great imponderable remains: where does the Bush administration seek advice on Indonesia outside the narrow confines of the policy community? These are troubling questions too complex to grapple with in a mere book review. This is not to sound too pessimistic, but empirical record so far makes for grim reading.

In this regard, Gerald Houseman's volume fills a significant void, although it is rather American-centric from the viewpoint of a Southeast Asian academic, such as this reviewer. There is a plethora of excellent books in English written by Indonesian scholars that sadly do not rate a mention in the author's annotated bibliography.

Likewise a discussion on international relations in the book makes no mention of the outstanding work on Indonesian foreign policy by Franklin Weinstein or Michael Leifer. Australian scholarship on Indonesia is dismissed as "long on factual detail while providing little in way of theoretical underpinning" which, in the reviewer's opinion, is somewhat unfair considering that most independent observers would conclude that Australia in the 1990s led the world in the teaching of Indonesian language and studies. However, for how long this lead will be maintained remains an open question as the University of Sydney and the University of Western Sydney ponder their options as to whether they should close down their Indonesian language courses next year in the wake of funding cuts and decreasing student enrolments. This contrasts with the situation in the 1960s when there was standing-room only in the University of Sydney's lecture theatres for new Indonesian language courses.

Yet maintaining not just Australian but specifically in this context U.S. expertise on Indonesia and expanding the level of understanding through research and education is crucial to the quality of  engagement with Indonesia. Hopefully, the Houseman volume will help stimulate interest in Indonesian studies particularly among American students--which is essentially the audience this book addresses and remains the strong underlying theme of the book. Houseman's book begins with a useful analysis of the current government system with an assessment of the problems facing the post-Soeharto state. This is followed by a fascinating study of how classical political science theories can assist in an understanding of Indonesia that would be particularly valuable to both graduate and undergraduate students studying comparative politics. Also useful is a section on suggestions regarding where to find information on contemporary events in Indonesia as well as important tips on doing field research in Indonesia. For the United States, if preventing Indonesia from becoming communist was a critical objective in the 1960s, then just as important now in an era where transnational terrorism has become a global threat, is the need to engage what now significantly is the largest democracy in the Islamic world. Crucial in that regard is the development of a new generation of Indonesianists in the United States who can facilitate such engagement, and Houseman's book would undoubtedly play its role in this quest.

Leonard C Sebastian
Institute of Defence and Strategic Studies
Nanyang Technological University, Singapore

12 July 2007

Menulis - Meringankan Beban Otak

Awicaks

Salah seorang mantan boss saya dulu senantiasa mengingatkan, "Put all your ideas on paper, even the worse one...." Dan pada satu kesempatan, kami berdua berbincang tentang kebiasaan mengartikulasikan gagasan di atas kertas. Dia menggunakan perumpamaan hard-disk (tempat penyimpanan data dan program aplikasi) komputer untuk menggambarkan kaitan antara kebiasaan menulis dengan enerji kreatif otak.

"Kemampuan otak menyimpan memori saya kira prinsipnya sama dengan hard-disk. Yang paling utama adalah soal keterbatasannya. Baik hard-disk maupun otak punya kapasitas menyimpan." Mantan boss saya membuka diskusi. Ia melanjutkan dengan beberapa data tentang faali cara kerja otak. Ada ruang penyimpanan otomatik segala hal yang ditangkap perangkat sensorik tubuh manusia, seperti mata, telinga, kulit, hidung, mulut. Pada hard-disk ia disebut cache memory. Cache memory menyimpan semua jejak kegiatan komputer yang kita gunakan.

"Jika cache memory tidak rajin dibersihkan, komputer akan menjadi lambat," ujarnya. Demikian pula halnya dengan otak. Tetapi, bagaimana cara membebaskan beban data pada bagian otak yang berfungsi seperti halnya cache memory pada hard-disk komputer? "Menuliskannya. Hanya itu caranya...."

Sesungguhnya ada banyak kegiatan rutin yang sudah melibatkan kegiatan menulis sebagai usaha meringankan beban otak. Salah satunya adalah menulis agenda kegiatan. Menulis janji (appointment), hal yang mesti dikerjakan (task/to do list), jadual kerja, nomor telefon dan alamat, dan sebagainya. Menurut saya, kegiatan sederhana itu mampu menyediakan sebagian ruang otak kita untuk memroses kerja-kerja kreatif. Bisa dibayangkan seandainya hal-hal lain pun disalurkan atau mungkin lebih tepat disebut dengan 'dipindahkan' ke atas kertas.

Sila mencoba!

12 Juli 2007

Proyek Menulis Bersama

Awicaks

Gagasan yang menarik. Bagaimana orang dibuat bergairah berlatih menulis menggunakan media yang partisipatif, sesungguhnya bukan hal baru. Ada beberapa blog yang sengaja dirintis untuk memungkinkan beberapa orang berlatih menulis tanpa beban. Perbincangan ringan yang sangat singkat diantara alumni Labschool angkatan 83 tentang latihan menulis bersama yang menjadi pemicu gagasan tersebut.

Harus diakui bahwa tantangan terbesar menulis terletak pada diri sendiri. Writing block atau hambatan mental untuk menulis merupakan hal yang lumrah. Saya dulu menghadapi hambatan tersebut. Saya punya keinginan kuat untuk dapat menulis yang memiliki manfaat bagi orang yang membacanya. Jangankan mulai menulis, saya justru lebih disibukkan menelaah kegunaan-kegunaan yang ingin dicapai.

Hal lain yang membebani saya adalah kesibukkan memikirkan mutu tulisan. Saya takut sekali diejek oleh beberapa kawan dekat karena yang saya tulis hanya hal-hal yang remeh. Kesibukkan membanding-bandingkan mutu tulisan orang malahan membuat saya tidak juga mulai menulis.

Saya justru mulai lepas menulis secara mengalir ketika mailing list sedang marak, sekitar awal tahun 1996. Perdebatan lewat tulisan di mailing list menjadi pemicu dan pemacu semangat untuk terus belajar. Meskipun harus saya akui seringkali perdebatan-perdebatan di mailing list terjebak pada situasi sekedar menang - kalah, tetapi perasaan bebas dan merdeka untuk mengungkapkan gagasan tumbuh pesat. Jika saya tidak suka dengan mutu dan jalannya perdebatan-perdebatan yang ada, toh saya tinggal mengabaikan saja, atau pada kondisi paling ekstrem, saya tinggal berhenti berlangganan (unsubscribe).

Hadirnya blog membuka ruang lebih luas lagi untuk menulis dengan pikiran yang bebas dan merdeka. Saya tak harus peduli tentang mutu. Meski agak narcist, saya merasa saya menulis untuk diri sendiri. Apa bedanya dengan menulis buku harian? Saya tidak punya kebiasaan menulis buku harian, sehingga terus terang tak punya cukup argumen untuk mengatakan persamaan dan perbedaan antara menulis blog dengan menulis buku harian. Sebagian blog yang saya buat berisi hal-hal yang saya minati. Mengelola blog bagi saya seperti halnya memiliki koran sendiri. Saya pemiliknya, penulisnya dan bahkan pembacanya. Bahwa blog saya dikunjungi orang, dibaca dan bahkan dikomentari, bagi saya itu tak lebih dari bonus atau berkah tambahan.

Dari pengalaman itu, terpikir oleh saya untuk membuat blog dimana kawan-kawan alumni Labschool 83 punya arena bersama untuk berlatih menulis. Semua orang berperan sebagai siswa, dan saat yang sama semua orang berperan sebagai pelatih, meskipun tidak dalam arti sesungguhnya, karena yang terpikir oleh saya adalah semacam mekanisme pengecekan dan umpan-balik silang yang setara (peer review). Blog bisa dibuka dengan pertanyaan sederhana yang akan dijawab menggunakan tulisan. Untuk menggairahkan semangat, blog diupayakan untuk tidak menerapkan ketentuan yang ketat menyangkut teknik penulisan maupun bahasa. Karena tujuan utama adalah membongkar writing block.

Bagaimana? Tertarik?

22 June 2007

Priayi yang Menikung Jalan

Tempo, 14/XXXIIIIII/28 Mei - 03 Juni 2007

Buku yang memberikan gambaran tentang priayi yang sanggup mempopuliskan kepriayiannya. Biografi Umar Kayam yang cukup kaya.

Manusia Ulang-alik: Biografi Umar Kayam
Penulis: Ahmad Nashih Luthfi
Penerbit: Eja Publisher, Yogyakarta, April 2007
Tebal: xxvii + 186 halaman

Inilah buku yang menarik dibaca. Manusia Ulang-alik: Biografi Umar Kayam tidak kering, juga tidak romantik—sebagaimana umumnya buku biografi di sini. Ia memberikan gambaran umum sekaligus kejutan-kejutan detail dalam pembahasan yang obyektif.

Ya, inilah Umar Kayam. Lewat magnum opus-nya, Sang Priyayi dan Jalan Menikung, ia mengentak jagat budaya Jawa. Tokoh Lantip, yang dalam beberapa hal mirip dengan diri sendiri, melakukan penafsiran kembali terhadap dunia priayi. Dunia kelas menengah Jawa ini dibolak-balik, diaduk dan dibangun kembali dari dalam. "Sejarah keluarga" ini kemudian berlanjut pada buku berikutnya, Jalan Menikung. Dalam buku yang kedua ini, priayi kembali didiskursuskan, kali ini dengan lingkup budaya global yang penuh kontradiksi dan kontestasi, mulai dari Amerika, Islam, dan Yahudi, sebagaimana tampak pada pergulatan batin dua tokoh utamanya, Eko dan Claire.

Lebih jauh ia sendiri pernah menyatakan bahwa kedua bukunya itu ditulis untuk membantah pandangan para sejarawan dan antropolog asing. Sasaran tembaknya jelas dan tidak main-main: Clifford Geertz, yang dalam karya klasiknya, The Religion of Java, membagi masyarakat Jawa secara trikotomis— santri, priayi, dan abangan. Di mata Kayam, seperti disiratkan dalam kedua bukunya, priayi adalah kelompok masyarakat yang kompleks dan memiliki sifat pragmatis. Di balik hedonismenya, mereka masih memiliki kesadaran kultural untuk menciptakan "struktur solidaritas" dengan wong cilik serta pengertian spiritual terhadap hal-hal yang sakral.

Dilahirkan dari keluarga Sastrosoekoetjo yang priayi Mangkunegaran, ia mengalami masa kecil yang menyenangkan. Pendidikan pertamanya adalah voorklas (TK). Setamat dari sana ia melanjutkan ke HIS Siswo Mangkunegaran, sekolah dasar untuk anak priayi, guna menyiapkan priayi-priayi gubernemen pemerintah kolonial Belanda. Di sekolah ini karakter kejawaannya (baca: kepriayiannya) mulai terbentuk, terutama karena sekolah ini mewajibkan semua muridnya berbicara dalam bahasa Jawa halus (krama).

Ia kuliah di Yogyakarta, beraktivitas dengan pegiat teater seperti Rendra, Subagyo Sastrowardoyo, Nung Simanungkalit, lalu terbang ke Universitas Cornell. Ia mengambil gelar doktor, juga mengasah proses kreatifnya. Senarai Seribu Kunang-kunang di Manhattan, karyanya yang lahir di sana, dianggap Faruk H.T. sebagai bukti bahwa kecermatan Kayam dalam memotret situasi kehidupan orang metropolis di Amerika sulit ditandingi, bahkan oleh sastrawan sekaliber Budi Darma, Satyagraha Hoerip, dan Kuntowijoyo.

Ia terus berkarya, mengajar, menjadi birokrat—Dirjen Radio, Televisi, dan Film—bahkan bermain film. Pada pertengahan dekade 1980, Umar Kayam tampil sebagai Bung Karno dalam film ideologis Orde Baru, Pengkhianatan G30S-PKI. Sesuatu yang membuat sebagian kalangan menudingnya telah "berkhianat", "berselingkuh" dengan pemerintah.

Namun sosok yang sering dianggap sebagai the last priayi ini agaknya telah memilih dengan sadar. Ia paham betul dengan tugas kaum intelektual, sebagaimana yang disebutkan oleh Martin Heidegger: kaum intelektual harus mempunyai ikatan kepada volkgemeinschaft, mengambil bagian dalam keseluruhan usaha masyarakat sebagai anggota bangsa. Dalam kerangka berpikir seperti inilah kita bisa memahami mengapa ia mau mengambil berbagai peran dalam kehidupannya, mulai dari budaya, sastra, hingga politik.

Secara historiografis, buku ini sangat menarik. Penulisnya dengan lihai menjaring historical consciousness melalui penekanan pada Umar Kayam on aware of becoming and not only being. Kekayaan detail, sebagai syarat utama sebuah biografi, tampak dari narasumber yang dipakainya, mulai dari istri, saudara, hingga koleganya seperti S.M. Ardan dan Prof Dr Rachmat Djoko Pradopo.

Tampak, penulis mendekati tokohnya dengan teori dasar Freud, childhood is the father of a man. Dengan kerangka berpikir ini, akar kebudayaan sang tokoh bisa dilacak dan dinilai dari masa kecilnya. Kepriayian yang mewarnai masa kecilnya justru menjadi semacam epiphany, turning points moments, atau momen krisis bagi kehidupan pribadinya begitu ia menyaksikan perubahan dunia yang sedemikian cepat dan menuntut sikap adaptif. Dengan begitu, ia menjadi priayi yang kritis, untuk kemudian memilih menikung jalan: mempopuliskan priayi.

Karya ini, sebagaimana buku sejarah pada umumnya, memang masih menyisakan banyak pertanyaan, sebuah tanda yang sebenarnya sangat baik. Ya, seperti dikatakan Bakdi Soemanto dalam pengantar buku ini, "Umar Kayam adalah sosok yang tidak pernah basi dibicarakan. Sebab, ia sosok yang memancarkan cahaya dari berbagai sudut. Ia ibarat sebuah prisma."

Muhammad Yuanda Zara

The Islamic Traditions of Cirebon

Ibadat and Adat Among Javanese Muslims

A.G. Muhaimin

ISBN 1 920942 30 0 (Print version) $24.95 (GST inclusive)
ISBN 1 920942 31 9 (Online)

This work deals with the socio-religious traditions of the Javanese Muslims living in Cirebon, a region on the north coast in the eastern part of West Java. It examines a wide range of popular traditional religious beliefs and practices. The diverse manifestations of these traditions are considered in an analysis of the belief system, mythology, cosmology and ritual practices in Cirebon. In addition, particular attention is directed to the formal and informal institutionalised transmission of all these traditions.

Download Free Formats

pdf PDF | html HTML |

Out of the Ashes: Destruction and Reconstruction of East Timor


Edited by James J Fox and Dionisio Babo Soares

304 pp
ISBN 0 9751229 0 8 (Online document)
ISBN 0 9751229 1 6 (Print version) $24.95 (GST inclusive)

Out of the Ashes is a collection of essays that examine the historical background to developments in East Timor and provide political analysis on the initial reconstruction stage in the country's transition to independence. The volume is divided into three thematic sections – background, assessment and reconstruction – bringing together the experiences and knowledge of academic researchers and key participants in the extraordinary events of 1999 and 2000.

After years of Indonesian rule, the people of East Timor voted to reject an offer of autonomy choosing instead independence from Indonesia. This decision enraged pro-integrationist militia who, backed by the Indonesian military, launched a program of violence and destruction against the inhabitants of East Timor. President Habibie eventually agreed to the presence of a United Nations peace-keeping force, but by this stage East Timor had been ravaged by destruction.

The new East Timorese government faced the challenges of the future with an understanding that the successful struggle for independence was both a culmination and a starting point for the new nation. As the events of 1999 recede, many of the issues and challenges highlighted in Out of the Ashes remain of central significance to the future of East Timor. These essays provide essential reading for students and interested observers of the first new nation of the 21st century.

James J. Fox is Director of the Research School of Pacific and Asian Studies at The Australian National University. He has been doing research on Timor since 1965. He was an international observer for the Carter Center during the popular consultation in 1999 and was a member of the UN-World Bank Joint Assessment Mission to East Timor later in that year. He has continued his involvement in developments in East Timor.

Dionisio Babo Soares is a doctoral student in anthropology in the Research School of Pacific and Asian Studies at The Australian National University. His research is focused on local political and social developments in East Timor during the transition to independence. He is currently working for the Asia Foundation in East Timor.

Download Free Formats

PDF PDF | HTML HTML |

19 June 2007

The Second Front: Inside Asia's Most Dangerous Terrorist Network


Oleh Ken Conboy

Puluhan tahun sebelum al-Qaeda terbentuk, kelompok radikal berbasis agama di Asia Tenggara telah membangun alas bagi sebuah perjuangan untuk mewujudkan satu utopia kehidupan seperti masa lalu. Buku ini mengupas tentang Jamaah Islamiyah (JI), sebuah organisasi rahasia yang jangkauannya mencapai enam negara dan senantias berorientasi pada tindakan serius terhadap situasi-situasi yang tidak sejalan dengan Islam dan yang tidak mentolerir keberadaan Islam.

Dalam buku The Second Front: Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network, penulis yang spesialis buku laris, Ken Conboy, merekonstruksi potongan-potongan informasi dari mulai perencanaan hingga pelaksanaan operasi JI berdasarkan wawancara-wawancara eksklusif serta laporan-laporan berkategori rahasia. Ada begitu banyak rincian yang belum pernah diungkap sebelumnya, termasuk apa yang ada di benak para pemimpin kelompok tersebut - dari pakar peledak Azahari hingga perwakilan al-Qaeda, Hambali. Mulai dari bayang-bayang Hindu Kush hingga ke medan-medan pertempuran di pulau-pulau rempah, The Second Front mengupas tabir kerahasiaan serta rekam-jejak keberhasilan upaya-upaya penumpasan jaringan ini, serta memaparkan kegagalan pengurus negara-negara di wilayah Asia mencegah tindakan terorisme serta tindak kekerasan sektarian yang telah mengambil banyak korban jiwa.

Tentang Penulis

Ken Conboy, penulis buku laris INTEL: Inside Indonesia’s Intelligence Service dan KOPASSUS: Inside Indonesia’s Special Forces, adalah seorang manajer sebuah perusahaan konsultan resiko dan keamanan di Jakarta, Risk Management Advisory. Sebelumnya ia bekerja sebagai Wakil Direktur Pusat Studi Asia, the Asian Studies Center, sebuah kelompok pemikir (think-tank) yang berpengaruh di Washington, DC, dimana ia bertugas menyusun makalah-makalah kebijakan untuk Kongres AS dan pengurus negara AS menyangkut keterkaitan strategis ekonomik AS dengan negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Conboy adalah lulusan dari School of Foreign Service, Universitas Goergetown, serta School of Advanced International Studies, Universitas Johns Hopkins. Conboy juga adalah seorang pengajar tamu pada Universitas Chulalongkorn, Bangkok, dan bermukim di Indonesia sejak 1992.