08 April 2006

Mulai Bergerak

Awicaks

Setelah pertemuan pertama di Apartemen Cilandak, Tim Studi Jawa mulai bergerak. Saya mengikuti lalu-lintas email diantara anggota tim. Menggembirakan. Meski hubungan tim bersifat maya (virtual) tetapi anthusiasme mereka untuk mempelajari serius latar-sejarah pasang-surut kehidupan di pulau Jawa sangat menggembirakan saya.

Laporan tentang koleksi kliping mulai masuk dari Yogyakarta. Awal yang bagus saya pikir. Koordinator studi, Rini, pun mulai melakukan penelusuran secara intensif situs-situs internet. Beberapa rekomendasi mulai ia lontarkan. Mudah-mudahan anthusiasme ini terus terjaga.

8 April 06

07 March 2006

Bahan-bahan Bacaan Menarik Terbaru

Pengelola

Terimakasih kepada Pak John MacDougall untuk rujukan-rujukannya. Bahan bacaan di bawah ini diekstrak dari mailing list yang dikelola Om John, yakni Indonesian Studies. Untuk mengambil (downloading) bahan bacaan di atas, cukup klik kanan mouse Anda, lalu pilih perintah "Save Target As.." (pada Internet Explorer), atau "Save Link As.." (pada Mozila Firefox). Untuk dapat membacanya komputer Anda harus memiliki piranti-lunak Acrobat Reader. Piranti-lunak itu dapat diambil secara gratis di situs Adobe Acrobat.

Ada pertanyaan? Silakan email saya.

26 February 2006

Bahan-bahan Bacaan Menarik Terbaru

Terimakasih kepada Pak John MacDougall untuk rujukan-rujukannya. Bahan bacaan di bawah ini diekstrak dari mailing list yang dikelola Pak John, yakni Indonesian Studies. Untuk mengambil (downloading) bahan bacaan di atas, cukup klik kanan mouse Anda, lalu pilih perintah "Save Target As.." (pada Internet Explorer), atau "Save Link As.." (pada Mozila Firefox). Untuk dapat membacanya komputer Anda harus memiliki piranti-lunak Acrobat Reader. Piranti-lunak itu dapat diambil secara gratis di situs Adobe Acrobat.

Ada pertanyaan? Silakan email saya.

16 February 2006

Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps: Indahnya Hidup Dalam Perbedaan

Resensi oleh Munawar Kasan (Koordinator Indonesia Readers Society)
Pertama kali dimuat di Bisnis Indonesia, Minggu, 12 Februari 2006

Judul Buku: Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps
Penulis: Allan & Barbara Pease
Penerbit: Penerbit Ufuk
Cetakan: Desember 2005
Tebal: xv + 405 halaman
Harga: Rp 55.000,00


Perselisihan dan perceraian banyak dipicu karena masing-masing tak memahami kekurangan pasangannya. Padahal, sebenarnya itu bukan kekurangan tetapi memang oleh Tuhan diciptakan berbeda.

Dalam buku ini, Allan & Barbara Pease menghadirkan perbedaan-perbedaan ini dalam perspektif ilmiah. Keduanya berkesimpulan bahwa pria menginginkan kekuasaan, pencapaian, dan seks. Sedangkan wanita ingin hubungan, kestabilan, dan cinta.

Meskipun memuat hasil penelitian secara ilmiah, buku ini disajikan dalam bahasa umum yang mudah dicerna. Selain itu, buku ini tidak hanya mengungkapkan perbedaan antara pria dan wanita, tapi juga disertai teknik pemecahannya.

Dijelaskan perbedaan kedua makhluk beda jenis itu berpangkal dari faktor hormon dan otak. Pada anak pria, hormon testosteron menghalangi pertumbuhan otak kiri sehingga otak kanan berkembang lebih cepat. Pada anak perempuan, kedua belahan otak tumbuh seimbang.

Inilah yang membuat pria mempunyai keterampilan ruang yang lebih unggul. Tak heran jika pria lebih mahir dibandingkan wanita dalam hal membaca peta, berburu, mengendarai kendaraan, bermain golf, dan aktifitas lainnya yang berhubungan dengan keterampilan ruang.

Di sisi lain, pria punya kelemahan dalam hal komunikasi, hanya satu pekerjaan dalam satu waktu, dan tak mampu menyimak. Kesemuanya itu justru menjadi keunggulan wanita.

Wanita pandai berbicara karena mempunyai area keterampilan berbicara di otak yang lebih besar dibanding pria. Wanita juga mampu berbicara di telepon sambil memasak dengan resep baru dan nonton televisi secara bersamaan.

Kelemahan pria inilah yang menjadi salah satu pemicu kereta-kan hubungan. Suami enggan berkomunikasi di penghujung hari selepas beraktifitas. Di sisi lain, wanita juga bisa menjadi sumber perselisihan karena sifatnya yang emosional karena titik-titik emosi tersebar di otak kiri dan kanan.

Persepsi tentang pernikahan, cinta, seks, dan romansa ternyata juga memang sangat berbeda antara pria dan wanita. Penulis mengulasnya secara apik disertai dengan bukti-bukti penelitian ilmiah.

Siasati perbedaan

Kegagalan pria dan wanita dalam memahami perbedaan ini sering menjadi masalah. Padahal seharusnya mereka sadar bahwa bukan hanya berbeda secara fisik melainkan dalam banyak hal. Jadi, masing-masing tidak bisa menggunakan parameter dirinya untuk menuntut pasangannya.

Makanya, yang harus dilakukan adalah memahami sepenuhnya perbedaan tersebut sehingga akan meminimalisir potensi konflik.

Selanjutnya, pria dan wanita harus menemukan resep yang tepat untuk menyiasati perbedaan. Ketika resep jitu ditemukan, maka pria dan wanita akan merasakan indahnya hidup dalam perbedaan.

Kalau merujuk pada buku ini, jika wanita diberikan peluang seluas-luasnya untuk profesi yang membutuhkan keterampilan ruang seperti insinyur atau pilot maka bisa dipastikan sepi peminat. Sebaliknya, untuk profesi yang menuntut kemampuan berkomu-nikasi dan sektor pelayanan pasti didominasi wanita.

11 February 2006

Info Buku: Gender, Bahasa dan Kekuasaan

Informasi Buku

Judul buku: Gender, Bahasa dan Kekuasaan
Penulis: Esther Kuntjara, Ph D
Penerbit: Universitas Kristen Petra Surabaya dan penerbit PT BPK Gunung Mulia Jakarta
Tahun terbitan: 2004
Tebal: ix+117 halaman.

Sejak munculnya berbagai gerakan perempuan pada pertengahan abad ke 20 hingga sekarang,para pakar di bidang linguistik, antropologi budaya, sosiologi, psikologi, komunikasi dan banyak disiplin lain mulai mencari hubungan antara bahasa dan seks. Mereka juga melihat bagaimana peranan perempuan dan laki-laki dalam budaya mempengaruhi gaya bicara mereka. Benarkah perempuan lebih banyak bicara [cerewet] dibanding laki-laki? Apakah kosa kata yang kita pakai sehari-hari berbias gender dan sering merugikan perempuan dan membuat keberadaan perempuan tersembunyi? Apakah benar gaya bicara laki-laki lebih bersifat agresif sedang perempuan lebih lembut dan menunjukkan keakraban? Benarkah perempuan lebih sopan dibanding laki-laki sehingga mereka harus menggunakan bahasa yang halus dan sopan, sedangkan laki-laki lebih bebas menggunakan bahasa apa saja? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menjadi menarik untuk disimak dan dipelajari.

Esther Kuntjara, PhD menyelesaikan stud S1 jurusan Bahasa Inggris di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga tahun 1982. Bersama suami dan kedua anaknya,penulis berangkat ke Amerika Serikat tahun 1985. Sambil menyertai suami yang mengambil S3 di California, penulis menyelesaikan studi S2 dibidang TEFL di San Fransisco State University. Program itu diselesaikannya pada tahun 1988. Sekembali ke Indonesia, penulis mengajar bahasa Inggris di Universitas Kristen Petra Surabaya. Pada tahun 1990-1993 penulis dipercayakan mengemban tanggung jawab sebagai Dekan fakultas sastra UK Petra Surabaya.Pertengahan tahun 1993,penulis menerima beasiswa dari United Board ke Amerika Serikat sebagai dosen tamu di Central College, Iowa, selama satu tahun. Tahun 1997 penulis kembali ke Amerika Serikat untuk mengambil S3 di Indiana University of Pensylvania di bidang Rhetoric and Linguistics dengan disertasi" A Sociolinguistic Study of Two Chinese Indonesian Mother-Daughter Pairs in Surabaya". Studi S3 diselesaikan tahun 2003. Selama studi di IUP, penulis memperoleh penghargaan menjadi anggota dari Honor Society of Phi Kappa Phi. Beberapa tulisannya yang banyak berkisar tentang gender dan bahasa sudah dimuat di jurnal-jurnal nasional maupun internasional. Penulis juga sering memberi presentasi ilmiah baik didalam maupun di luar negeri.

Untuk informasi pembelian, kontak Penerbit PT BPK Gunung Mulia, Jl. Kwitang 22-23 Jakarta 10420. Telp 021- 3901208 Fax 021- 3901633. email: publishing@bpkgm.com

05 February 2006

Membaca Pulau Jawa: Catatan Awal dari "Land Use and Environment in Indonesia"

Awicaksono

Buku tua yang ditemukan Torry di Perpustakaan WALHI akhirnya selesai saya baca secara selektif. Saya memfokuskan bacaan saya pada pulau Jawa, serta paparan tentang isu-isu nasional yang terkait dengan pulau Jawa.


Sebagai pulau utama terkecil dibandingkan pulau-pulau utama lain di kepulauan Indonesia, pulau Jawa merupakan yang paling padat penduduknya. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari dinamika demografik sejak masa kerajaan Hindu, kerajaan Islam serta masa pendudukan Belanda. Modalitas dari seluruh cerita terkait dengan dinamika demografik pulau Jawa adalah tanah dan kekayaan alam, berikut posisi geopolitiknya terhadap lalu lintas perdagangan baik di masa lalu hingga sekarang. Saat ini total populasi pulau adalah 60% dari populasi Indonesia, dengan tingkat kepadatan 864 jiwa/km2. Pulau Jawa adalah wilayah terpadat penduduknya nomor dua setelah Bangladesh.

Beberapa catatan sejarah yang cukup mengagumkan saya peroleh sebelumnya dari sebuah buku berjudul "Beneath Smoke of the Sugar-Mill," yang merupakan hasil kolaborasi penelitian para akademisi dari Belanda, Jepang dan Indonesia. Dari penelitian kolaboratif tersebut terungkap bahwa bangkrutnya tata-guna lahan asli sudah dimulai sejak introduksi perkebunan besar oleh East Indies Companies atau VOC, lewat perkebunan tebu, teh, kopi dan tembakau. Meski sebelumnya masalah penguasaan tanah sudah terjadi antara rakyat dengan penguasa-penguasa monarkhis pada masa kerajaan Hindu dan Islam, tetapi era perkebunan besar di awal abad 18 sangat berpengaruh kepada rona tata-guna lahan pulau Jawa hingga sekarang.

Dalam buku "Land Use and Environment in Indonesia" (Wolf Donner, 1987) masa itu tidak terlalu rinci diuraikan. Buku ini lebih menyorot persoalan-persoalan yang timbul akibat Revolusi Hijau di awal 70an serta percepatan investasi industri, baik manufaktur, perkayuan, perkebunan maupun pertambangan (mineral dan minyak bumi). Namun benang merah preferensi penanaman modal terhadap pulau Jawa sejak masa pendudukan Belanda hingga sekarang diurai cukup mendalam. Antara lain ketersediaan sarana dan prasarana pendukung investasi, seperti jalan, pelabuhan laut serta ketersediaan buruh.

Meski tak memenuhi harapan saya, paling tidak buku ini memberi beberapa hyperlinks menuju beberapa rujukan lain. Yang sudah antri untuk dilahap adalah "The Ecology of Java and Bali." Buku ini pernah saya baca sebelumnya saat terlibat dalam penyiapan "Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan 2003," tetapi saat itu pendekatan saya terlalu topikal. Agaknya saya harus memulai lagi dari nol...

Jakarta, 5 Februari 2006

Identitas yang Terbelah

Resensi oleh Ahmad Sahidah
Pertama kali dimuat di Kompas Minggu 5 Februari 2006

Buku ini adalah hasil suntingan dari sebuah konferensi bertajuk "Islam in Southeast Asia: Political, Social and Strategic Challenges for the 21st Century" yang diselenggarakan oleh Institut Kajian Asia Tenggara Singapura (ISEAS, Institute for Southeast Asian Studies). Namun demikian, ia telah mengalami perubahan dan pembaruan dengan memasukkan perkembangan terbaru yang menjelaskan peran, relevansi, dan tantangan, demikian juga dimensi politik dan strategi Islam di Asia Tenggara masa kini.

Kehadiran kumpulan karangan ini akan membantu memberikan pemahaman lebih luas mengenai dinamika respons gerakan Islam yang tersebar di negara Asia Tenggara. Meskipun, di satu sisi, mereka mempunyai ideologi dan garis perjuangan yang berbeda, namun di sisi lain, dalam beberapa isu, mereka menunjukkan pandangan dan reaksi yang sama. Di Indonesia, misalnya, Muhammadiyah, NU, dan Majelis Mujahidin mengungkapkan pandangan yang serupa terhadap serangan Amerika ke Afganistan dan Irak sebagai barbar dan menyalahi norma-norma kemanusiaan.

Menurut penyunting, perkembangan sosial, ekonomi, dan politik kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari proses globalisasi yang menyebabkan kondisi kemanusiaan tidak aman dan berbahaya. Meskipun globalisasi awalnya dijanjikan sebagai kendaraan bagi pembelaan terhadap martabat manusia dan demokrasi, tampaknya hanya makin memusatkan kekayaan dan kekuasaan yang lebih besar bagi Barat.

Tak dapat disangkal bahwa peristiwa 11 September telah menyebabkan apa yang disebut Subroto Roy, "runtuhnya sebuah percakapan global" karena dengan kekuasaannya yang besar negeri Paman Sam telah memaksakan kehendaknya menyerang sebuah negara tanpa persetujuan internasional. Peristiwa ini menandai putusnya percakapan kosmopolitan dengan Islam. Usaha George W Bush untuk meyakinkan umat Islam bahwa perang ini bukan perang agama, tidak menghapuskan sentimen anti-Amerika dengan segala bentuknya. Hal ini, tegas editor, akibat dari sudut pandang negara Islam dan Amerika yang berbeda melihat kebenaran.

Islam Asia Tenggara yang mempunyai peran strategis, berbeda dengan counterpart-nya di Timur Tengah, mewakili wajah lain. Perbedaan ini dapat ditelusuri dalam beberapa makalah yang dibagi ke dalam tiga bagian. Pertama, doktrin, Sejarah, Perkembangan, dan Lembaga-Lembaga Islam di Asia Tenggara. Kedua, Isu Politik, pemerintahan, masyarakat sipil dan jender di dalam Islam. Ketiga, modernisasi, Globalisasi dan perdebatan Negara Islam di Asia Tenggara dan terakhir adalah pengaruh 11 September terhadap pemikiran dan praktik Islam.

Tema-tema di atas dibahas oleh para ahli dari negara Asia Tenggara, termasuk juga melibatkan penulis asing yang menaruh minat pada isu keislaman, seperti Johan H Mueleman dan Bernard Adeney-Risakotta. Sementara itu, penyumbang dari Indonesia adalah Azyumardi Azra, Bachtiar Effendy, Lily Zakiah Munir, dan Noorhaidi Hasan. Beberapa penulis lain dari Asia Tenggara memang dikenal sebagai ilmuwan yang mempunyai kepedulian besar terhadap isu-isu keislaman Asia Tenggara.

Ulasan Azra dan Meuleman tentang sejarah datang dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara, baik dalam pengertian teknis dan ideologi, menunjukkan keragaman pendapat, yang satu sama lain mengajukan bukti yang berbeda sehingga makin mengukuhkan bahwa pelbagai mazhab di Indonesia adalah sebuah keniscayaan mengingat sumber pengaruh yang berbeda. Teknik, jelas Meuleman, maksudnya adalah asal daerah, kelompok atau etnik, dan periode penyebaran Islam ke Asia Tenggara, sedangkan ideologi berkaitan dengan keyakinan yang meluas bahwa bentuk Islam yang paling murni adalah yang lahir pada masa awal kelahiran agama ini. Namun, dengan pelbagai perbedaan temuan, pembawa Islam ke Asia tenggara berasal dari bukan Mekkah dan Madinah sebagai tempat lahirnya Islam, tetapi dari Yaman, Mesir, dan Gujarat India.

Sebagaimana kondisi Islam di Indonesia, dua negara tetangga, Malaysia dan Filipina, juga dihadapkan dengan polarisasi aliran, tradisional-modernis, dan konservatif-liberal. Islamisasi di negara tersebut terakhir, tulis Carmen, para misionaris dan pedagang Islam kawin dengan penduduk lokal, para tokoh politik Muslim tiba kemudian dan memperkenalkan lembaga politik dan agama, keluarga berkuasa Muslim Sulu, Maguindanao, Lanau, Borneo, dan Maluku membentuk aliansi yang memperkukuh dan memperdalam kesadaran Islam. Jika demikian, maka sebenarnya proses proselytisasi itu berlangsung secara damai. Lalu, kenapa sekarang terdapat kelompok yang garang menyampaikan kebenaran Islam?

Selanjutnya, bagaimana potret masyarakat Muslim di Asia Tenggara sekarang ini? Jawabnya tentu beragam. Contoh yang sedang aktual adalah tanggapan terhadap peristiwa 11 September beragam karena memang peta masyarakat Muslim di kawasan ini tidak tunggal. Adeney-Risakotta, yang pernah mengajar saya di IAIN menyampaikan secara lisan di kelas bahwa dia antiperang Amerika terhadap Irak, menulis dengan versinya sebagai orang Amerika bahwa usaha apa pun Amerika untuk meyakinkan bahwa Islam tidak menjadi target gagal untuk kebanyakan Muslim di Asia tenggara. Tambahnya lagi, meskipun terdapat simpati terhadap korban peledakan bom WTC, dan kebanyakan Muslim mengutuk tragedi yang menewaskan ribuan orang, tapi serangan ke Afganistan dan Irak lebih jauh mendapat respons emosional (hlm 326).

Carmen memaparkan lebih jauh bahwa 11 September, bagi minoritas Muslim, sebagai bencana karena mereka mulai merasa terjepit dan terkadang menempatkan mereka jadi sasaran permusuhan. Mungkin di Filipina, komunitas Muslim dihadapkan dengan tekanan karena di Selatan mereka menjadi kelompok pemisah yang melakukan pemberontakan bersenjata. Sekarang pemerintah telah menemukan momentum untuk menanggapi sempalan ini dengan stigma perang melawan terorisme.

Berbeda dengan negara-negara tetangganya, Malaysia relatif berhasil menempatkan agama Islam secara harmonis dalam kehidupan masyarakatnya yang relatif majemuk, baik dari segi agama, etnik, dan budaya. Shamsul AB, pemikir utama dari Negeri Jiran ini, dengan baik menyebut Islam politik moderat sebagai alasan keberhasilan mereka menjaga stabilitas, meskipun tidak bisa dilepaskan dari pengaruh birokrasi yang diwariskan oleh kolonialisme Inggris (hlm 114). Dengan mengutip Syed Naquib al-Attas, Inggris telah berhasil melakukan proses sekulerisasi, yang memisahkan praktik agama dan kenegaraan.

Bagi Muslim, Islam dianggap sebagai agama paripurna di mana politik, ekonomi, agama, serta masyarakat berjalin kelindan menjadi satu kesatuan (hlm xv). Berbeda dengan non-Muslim yang terbiasa dengan proses politik ekonomi dan sosial sekuler, maka pemisahan politik dan agama masih asing, meskipun penerapan agama dalam politik di dalam sejarah Islam beragam. Lalu, pertanyaan yang acapkali apakah Islam itu sejalan dengan demokrasi yang berpijak pada agenda masyarakat sipil? Jawaban terhadap persoalan ini juga beragam. Tidak ada kata tunggal untuk memberikan kata akhir.

Di dalam inventarisasi pelbagai pendapat tentang kesesuaian Islam dengan demokrasi atau tidak, sebenarnya persoalan mendasar adalah perdebatan otentisitas tanpa mengabaikan kerusakan yang lebih besar sebab ulasan beberapa penulis telah menunjukkan bahwa militansi telah menjadi hallmark lanskap politik di Indonesia, termasuk negara-negara Asia tenggara yang lain. Tentu saja, peran Indonesia menentukan karena sebagaimana penerbit buku ini (ISEAS) juga telah merumuskan dalam seminar baru-baru ini bertemakan "Listening to the True Voice of Muslims in Indonesia" di Singapura bahwa Indonesia akan menjadi negara terpenting dalam ikut menentukan peradaban dunia karena berada di simpang arus ideologi global, sumber daya alam yang kaya, dan kombinasi unik peradaban Muslim tanpa mengenyampingkan peran negara lain. Semoga.

Ahmad Sahidah,
Kandidat Doktor Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia