03 June 2007

Policy and regulatory developments in the forestry sector since 1967

Awicaks

No further comments. Intinya sama dengan makalah terdahulu. Kepatuhan rejim ekonomi-politik Indonesia kepada ekonomi neoklasik.
clipped from www.csis.or.id

By Linda Christanty and Raymond Atje

February 4, 2004



This paper, as its title suggests, discusses policy and regulatory development in the forestry sector in Indonesia for a period of more than 30 years. During this period the forestry sector has experienced a lot of changes. It has contributed significantly to the country's economic development, especially during the later years prior to the crisis. At the onset of the crisis forestry-related activities, including plantations, were among the main producers of exported goods. This development was partly a result of various policies and regulations introduced during the period under consideration.

 blog it

Ikhtisar - Economic crisis and trade liberalization: A CGE analysis on the forestry sector

Awicaks

Sektor kehutanan adalah sektor yang dipelihara oleh lembaga-lembaga keuangan internasional (international financial institutions, IFIs) mengingat pentingnya peran sektor ini dalam memastikan dikuasainya lahan produktif oleh Negara untuk kepentingan investasi.
clipped from www.csis.or.id

By Tubagus Feridhanusetyawan and Yose Rizal Damuri

February 6, 2004



This paper uses simulations based on a GTAP model to reproduce the economic crisis in Southeast Asia, and in particular in Indonesia. The model is a static-real sector model, so the focus of the simulation is on the declining investment and the declining prices of non-traded goods during the crisis. The simulation is conducted by creating an exogenous shock on risk premium in Indonesia, Thailand and Malaysia, which leads to smaller allocation of regional investment in these countries, lower stock of capital goods, and lower production. The second shock, which is the declining price of land and natural resource, opens the possibility of resource allocation between sectors in the economy.

Economic crisis and trade liberalization: A CGE analysis on the forestry sector

blog it

Ikhtisar - Poverty targetting in Indonesia:Programs, problems and lessons learned

Awicaks

Kemiskinan, kriminalitas dan ketimpangan serta kelas menengah adalah anak kandung dari ekonomi neo-klasik. Ia bukan peristiwa alam, tapi buah dari satu pilihan.
clipped from www.csis.or.id
By Ari A. Perdana and John Maxwell
March 1, 2004

This paper presents a discussion on some poverty alleviation programs that are specifically targeted to the poor. The programs covered in this paper are: Inpres Desa Tertinggal (IDT), Padat Karya (Employment), Food Security, Education and Health component of the post-crisis Social Safety Net package. Brief assessments of the programs show that the targeting of poverty alleviation programs in Indonesia has been a difficult and frustrating process for central government planners attempting to allocate scarce budgetary resources as efficiently and effectively as possible. Although poor families did benefit to a certain degree, all the programs that we have considered have suffered from two common problems: under-coverage and leakage. The paper concludes that the effectiveness of various poverty-targeted program in Indonesia are determined by, among other things, the type of targeting, administrative capacity, program design and publicity, and the quality of monitoring.

blog it

Ikhtisar - Kebijakan persaingan, daya saing, liberalisasi, globalisasi, regionalisasi dan semua itu

Awicaks

Membaca artikel Hadi Soesastro (CSIS) memperkuat pandangan saya bahwa negeri ini memang dipersiapkan menjadi captive market (pasar terpasang) sekaligus wilayah keruk untuk bahan mentah bagi industri negara-negara Utara.
clipped from www.csis.or.id

By Hadi Soesastro

March 1, 2004

Tulisan ini menelusuri perkembangan proses liberalisasi Indonesia serta kontribusinya dalam meningkatkan daya saing industri-industri dalam negeri. Liberalisasi tersebut dilakukan dalam beberapa front, baik secara unilateral, multilateral dalam WTO, maupun regional melalui APEC maupun AFTA. Pasca-krisis di Asia pada 1997, liberalisasi regional terhambat kecenderungan dalam negeri beberapa negara di Asia Tenggara untuk kembali menutup diri. Namun, Bali Concord II pada 2003 lalu kembali menegaskan komitmen meneruskan integrasi pasar di Asia, yang serta merta akan mendorong kelanjutan proses liberalisasi di Indonesia. Namun proses ini akan sangat tergantung dari perilaku dan upaya sejumlah lembaga-lembaga ekonomi penting di Indonesia.

Kebijakan persaingan, daya saing, liberalisasi, globalisasi, regionalisasi dan semua itu

blog it

24 May 2007

Inspirasi Kaleidoskopis Jakarta

Resensi oleh Achmad Sunjayadi
Kompas, Senin, 14 Mei 2007


F de Haan pernah sesumbar bahwa ia telah meneliti Batavia sampai ke akar-akarnya. "Si Jago", demikian julukan arsiparis-peneliti ini, mengatakan Batavia telah ditelitinya seperti ia memeras sebuah jeruk segar hingga kering. Tak tersisa setetes pun.

Sesumbar De Haan ada benarnya karena, bila kita membaca buku ini, hampir sebagian besar para penulis artikel menggunakan De Haan sebagai sumber. Namun, De Haan melupakan satu hal, membicarakan Batavia atau Jakarta sekarang, tak akan ada habisnya. Buktinya, hampir setiap tahun persoalan yang dihadapi kota yang dahulu bergelar "Ratu dari Timur" itu beraneka ragam.

Menariknya, segala macam persoalan itu berakar dari berbagai masalah yang nyaris sama pada masa lalu. Sebut saja aspek demografi, morfologi perkotaan, lingkungan hidup, lalu lintas, hingga banjir. Dalam konteks itulah, buku Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural layak dibaca, khususnya bagi bakal gubernur, penduduk, serta pendatang DKI Jakarta.

Buku yang membahas Jakarta ini merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh para ahli berbagai latar belakang disiplin ilmu dari luar maupun dalam negeri. Mulai dari sejarah, sosiologi, antropologi, geografi, linguistik, arsitektur, bahkan sastra. Suatu pendekatan yang semestinya juga dilakukan oleh para pengelola serta aparatur ibu kota negara ini yang memiliki beragam masalah.

Titik tolak yang digunakan buku ini bukan berdasarkan tematis, tapi kronologis. Yang merentang dari masa VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), abad ke-19, periode akhir masa kolonial hingga periode modern pascakemerdekaan.

Simak saja uraian Blussé membahas ritual diplomatik internasional pada periode awal Batavia. Ia menuturkan bagaimana para pejabat VOC harus mempelajari etiket dan protokol diplomatik. Berbagai upacara penyambutan, seperti tur dengan kereta kuda, defile pasukan bertombak, tembakan salvo hingga diisapnya sebatang pipa cangklong, harus diketahui oleh pejabat VOC.

Lalu ia membandingkan dengan penyambutan tamu negara masa kini. Melesat dengan kecepatan penuh dari bandara ke penginapan mereka, didahului dan diikuti rombongan polisi militer dengan raungan sirine dan lampu menyala-nyala. Tanpa memberi kesempatan kepada penduduk Jakarta untuk ber- tatapan dengan tamu pembesar asing itu (hal 36).

Masalah kesehatan serta nyamuk yang hingga sekarang juga menjadi masalah serius Jakarta ternyata juga merupakan persoalan pada masa lalu. Ironisnya, hal itu seolah menjadi persoalan yang tak kunjung padam. Masalah kesehatan pada masa VOC inilah yang dibahas lugas oleh Van der Brug.

Rumah sakit kompeni yang seharusnya membuat pasien menjadi sehat justru semakin membuat pasien sakit bahkan meninggal. Para pegawai senior VOC, kalau masih menyayangi nyawa, disarankan untuk dirawat di rumah saja daripada dirawat di rumah sakit yang jorok, kotor, penuh sesak (hal 51). Bagaimana pula dengan pelayanan rumah sakit pada masa kini?

Menurut penduduk, penyakit mereka berasal dari "uap jahat" yang ditengarai karena pendangkalan pantai yang dipenuhi sampah, bangkai ikan busuk. Tidak hanya itu, kanal yang tercemar, kuburan di halaman gereja, kualitas air, penebangan hutan, penggalian saluran air di sekitar kota hingga pencemaran Sungai Ciliwung karena adanya pabrik gula dituding sebagai biang kerok penyakit ganas di Batavia (hal 52).

Pakaian antinyamuk

Nyamuk pun jadi sasaran kambing hitam. Bila masa kini yang ditakuti nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), pada masa VOC nyamuk malaria (Anopheles sundaicus) jadi momok menakutkan. Begitu berbahayanya hingga pada masa VOC orang mengenakan "pakaian antinyamuk" khusus. Dalam berbagai pesta makan malam adalah hal biasa setiap tamu mempunyai seorang pelayan pribadi yang bertugas mengusir nyamuk dengan kipas besar (hal 64).

Ketidaksehatan Batavia ini sangat terkenal hingga seluruh Eropa. Ketika Raffles yang menjabat letnan gubernur Jawa kembali ke Inggris pada 1816, ia ditugaskan ke St Helena menemui Napoleon. Pertanyaan pertama Napoleon, apakah Batavia masih tidak sehat? Ketika itu memang Raffles sedang menderita malaria-cachexie dan tampak kurus (hal 73).

Masalah keamanan wilayah Ommelanden (di sekitar) Batavia menjadi perhatian Remco Raben. Persoalannya adalah konflik antarkomunitas. Pada 1686, ketika sebuah gardu jaga di kota diserang bandit-bandit Bali, VOC memutuskan mengeluarkan peraturan rinci mencakup semua komunitas di Ommelanden.

Diangkatlah para kepala kampung dengan pangkat kapten. Mereka diberi imbalan tanah untuk diri mereka serta para pengikutnya. Dengan cara ini diharapkan berbagai komunitas dijauhkan dari dalam kota (hal 104). Salah satu contoh adalah Kapten Jonker yang memiliki tanah di dekat Sungai Marunda.

Bicara 'kepala kampung', Mona Lohanda dalam artikelnya menyebutkan, kepala kampung pertama yang diangkat pada 1620 adalah kepala kampung China, Kapitan China.

Berbeda dengan pengangkatan kapten China pertama yang tercatat dalam Resolutien van 't Casteel Batavia pada 11 Oktober 1620, VOC justru tidak memberi perhatian pada pengangkatan Inlandsche Kommandanten yang berasal dari berbagai 'suku' ini. Antara lain, Kommandant der Boegineezen en Makassaren (Bugis dan Makkasar), der Amboneezen en Boetonders (Ambon dan Buton).

Betawi Asli

Apakah kaum bangsawan dikenal dalam masyarakat Betawi? Pertanyaan inilah yang mendasari Yasmine Shahab dalam membahas pembentukan elite Betawi yang berpangkal pada sejarah prakolonial.

Dalam artikelnya Yasmin menampilkan sebuah perhimpunan bernama Al Fatawi Mangkudat yang menyatakan diri sebagai representasi aristokrasi lama Jayakarta pra-Batavia sehingga memberi para anggotanya hak untuk dianggap sebagai BA alias orang Betawi Asli (hal 213).

Karya sastra ternyata dapat juga dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi masa lalu. Seperti artikel Gerard Termorshuizen yang menggunakan novel-novel PA Daum dalam mengungkapkan kehidupan kolonial di Batavia. Mulai dari gambaran kedudukan sosial, hobi pamer, kehidupan religius, hiburan dan kebudayaan, kaum Indo rendahan dan nyai hingga kaum pribumi miskin yang tertindas. Di sini tampak bahwa karya sastra terkadang bisa memunculkan gambaran lebih jelas tentang sebuah masyarakat ketimbang satu rak sarat naskah sejarah yang formal dan kaku.

Sementara itu, Huub de Jonge memusatkan perhatian pada orang Arab di Batavia. Kelompok etnis yang relatif kurang mendapat perhatian. Padahal, komunitas Arab di Batavia adalah komunitas Arab terbesar kedua setelah komunitas Arab di Surabaya. Ia membahas sejarah komunitas Arab di Batavia, ketegangan dan konflik dalam komunitas tersebut.

Susan Blackburn dalam artikelnya menyoroti persoalan hak pilih perempuan dan posisi perempuan di Batavia yang tampaknya merupakan persoalan rumit. Ia mengungkapkan sulitnya kerja sama antara kaum perempuan pribumi, Tionghoa, Belanda, dan Indo. Hal yang khusus dibahas adalah cabang Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht (Perhimpunan Pemilih Perempuan) di Batavia yang belum pernah dikaji sebelumnya.

Gang TSS

Nama-nama tempat di JA[DE]BOTABEK merupakan hasil penelitian memikat Kees Grijns yang menandai memori kolektif dan historis komunitas urban. Ia mengungkapkan berbagai nama jalan di Jakarta yang masih menunjukkan karakter asli pedesaan tempat itu, misalnya Kebon Sirih, Kebon Jeruk, atau Kebon Kopi.

Begitu pula nama jalan dengan nama haji tertentu yang menunjukkan kentalnya ikatan emosional orang Batavia dengan Islam tradisional. Namun, tahukah kita ada gang yang diberi nama 'Gang TSS'? Ternyata merupakan singkatan 'Tolong Sakit Sengsara' dan penghormatan terhadap seorang dokter Jawa yang membantu penduduk semasa penjajahan Jepang (hal 230).

Topik pelestarian alam di kawasan metropolitan Jakarta digarap Luc Nagtegaal dan Peter JM Nas. Mereka memaparkan kondisi kawasan hijau dari tipe-tipe yang berbeda, seperti taman, tanah kosong, taman milik pribadi, lapangan terbang, tanah makam, padang golf, lahan pertanian serta daerah resapan air. Mereka merumuskan pula sebuah teori tentang distribusi spasial kawasan hijau kota.

Artikel menarik lainnya adalah pandangan dari 'atas', yaitu kebijakan para pemimpin Jakarta dari masa ke masa karya Peter JM Nas dan Manasse Malo. Mereka menelaah kebijakan tersebut dengan menganalisis riwayat para wali kota dan gubernur pascaperang. Mulai dari Wali Kota Suwirjo hingga Gubernur Wiyogo (1945-1992).

Dengan kata lain gubernur, petinggi dan penduduk DKI Jakarta boleh saja silih berganti tapi persoalan yang dihadapi nyaris sama, berulang dan bahkan kian beragam.

Kekurangan buku ini (mungkin) kekurangjelian penyunting terjemahan pada halaman 1. Di sana tertulis tahun terbitan buku Oud Batavia karya si Jago, F de Haan 1992 seharusnya adalah 1922, seperti yang tercantum pada buku aslinya.

Secara umum buku yang dilengkapi peta, tabel, dan ilustrasi ini cukup menarik dan memberikan inspirasi bagi pakar sejarah, antropologi, sosiologi, tata kota, khususnya jajaran petinggi DKI Jakarta. Begitu pula para pembaca awam yang ingin mengetahui lebih banyak tentang gambaran persoalan ibu kota Negara Indonesia yang tak ada habisnya, kurang lebih bisa terpuaskan.

Achmad Sunjayadi Pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI dan Erasmus Taalcentrum Jakarta


07 October 2006

Mati Ketawa Cara NAZI

andree priyanto - Komunitas Ruang Baca

September ini sebuah buku kumpulan lelucon semasa NAZI berkuasa diterbitkan. Penulisnya, Rudolph Herzog, sutradara dan penulis naskah layar lebar Jerman, tak bermaksud mengocok perut pembaca. Ia cuma ingin mendobrak sejarah tabu Jerman seputar kehidupan Fuhrer (Pemimpin) Jerman Adolf Hitler. Sebuah upaya melepas ketegangan.

Hitler mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa. Begitu melihat Hitler, serentak para pasien memberinya salam: berdiri tegak seraya mengangkat tangan lurus ke muka. Saat ia melewati barisan seorang pria tak memberinya hormat. “Mengapa kamu tidak memberi hormat seperti yang lain?” Hitler menghardik. “ Mein Fuhrer (Pemimpinku), aku ini perawat, aku tidak gila seperti mereka!” jawab pria itu. Kendati, menurut buku baru ini, orang banyak memakai humor itu secara agak terbuka saat membicarakan Hitler dan kaki tangannya di awal Third Reich berkuasa, tapi tentu saja tak ada yang berani terang-terangan melontarkannya.

Sebuah lelucon bisa membuat orang tewas. Seorang pekerja di Berlin bernama Marianne Elise K. dihukum dan dieksekusi pada 1944 lantaran dituduh meremehkan semangat perang dengan melontarkan lelucon seperti ini:

Hitler dan Goring (Hermann Wilhelm Göring, orang kedua di NAZI) berdiri di puncak menara Radio Berlin. Hitler bilang ia ingin melakukan sesuatu guna menghibur warga Berlin. “Mengapa Anda tak meloncat saja ke bawah?” saran Goring.

Seorang kawan Marianne yang mendengar lawakan itu melaporkan ke pihak berwenang. Dan Marianne pun diringkus.

Penulis buku ini, sutradara film dan penulis naskah layar lebar terkemuka Jerman, Rudolph Herzog, tak bermaksud mengocok perut pembaca. Ia hanya ingin mengupas suatu periode di masa NAZI berkuasa dalam perspektif yang berbeda. Ia melihat lelucon pantas dipakai untuk menggambarkan perasaan rakyat yang sesungguhnya ketika itu.

“Lelucon mencerminkan kemarahan, kepura-puraan, dan kegirangan rakyat yang sesungguhnya,” kata Herzog, yang bukunya Heil Hitler, The Pig is Dead yang dipasarkan bulan ini. “Guyonan politik bukanlah bentuk sebuah perlawanan aktif tetapi katup pelampiasan kemarahan rakyat,” tutur pria 33 tahun ini.

Banyak di antara mereka yang sebal dengan Nazi bekerja sebagai pegawai papan atas di pemerintahan dan industri Jerman. Mereka tidak memberontak. Mereka cuma melontarkan lelucon segar:

“Seorang senior NAZI mengunjungi sebuah pabrik. Ia bertanya pada manajer di sana apakah masih ada di antara para pekerja yang mendukung Sosial Demokrat.

“Ya, 80 persen,” si manajer segera menjawab.

“Apakah ada yang mendukung Partai Pusat Katolik?”

“Ya, 20 persen,” manajer merespons.

“Tak adakah di antara kalian yang pengikut Sosialis Nasional?”

“Ya, kami semua NAZI!” Kesombongan para pembesar NAZI merupakan obyek utama dari segala guyonan:

“Göring menempelkan sebuah panah ke deretan medali di jubahnya. Tertulis di panah itu ‘berlanjut hingga ke belakang.’”

Lawakan seperti itu, kata Herzog, dianggap tak mengancam dan menentang NAZI. Herzog lantas membandingkannya dengan humor kelam seputar tiang gantungan yang beredar di kalangan kaum Yahudi pada 1930-an dan di masa perang:

“Dua orang Yahudi tengah bersiap dieksekusi dengan ditembak. Tiba-tiba datang perintah untuk segera menggantung mereka. Seorang terpidana mati itu membisiki kawannya “Kamu lihat, kan? Mereka kehabisan peluru.”

Di kalangan Yahudi, kata Herzog, lelucon seperti itu merupakan sebuah bentuk ekspresi keinginan untuk tetap hidup. “Saya tertawa maka saya masih tetap hidup,” kata Herzog yang bukunya dibuat berdasar catatan kesusateraan kontemporer, catatan harian, dan wawancara dengan 20 orang yang hidup semasa NAZI berkuasa.

Setelah melalui serangkaian proses pengumpulan data itu, sampailah Herzog pada satu kesimpulan: Sejak awal, rakyat Jerman benar-benar mahfum pemerintahnya kejam. Dan negeri itu tak sedang kerasukan “semangat kebrutalan” atau tersihir propaganda gemilang NAZI. “Rakyat yang terhipnotis tak akan membetas lelucon,” kata Herzog.

Lelucon tentang kamp konsentrasi Dachau­-dibuka pada 1933­-memperlihatkan bahwa rakyat tahu sejak awal mereka bisa masuk bui jika bertingkah mengungkapkan opini mereka:

Dua pria bertemu. “Senang melihatmu kembali bebas. Bagaimana rasanya berada di kamp konsentrasi?” tanya sang kawan. “Hebat! Sarapan diantar ke tempat tidur, bisa memilih kopi atau cokelat, dan untuk makan siang kami dapat sup, daging, dan hidangan pencuci mulut. Siang harinya kami bebas bermain, sehabis itu ngopi dan makan kue. Lalu kami tidur sejenak dan menonton film usai makan malam.”

Teman itu tercengang: “Luar biasa! Tapi ceritamu kok berbeda dengan Meyer yang juga ditahan di sana?”

Sambil manggut-manggut dengan sorot mata menerawang pria satunya bilang: “Ya, itulah sebabnya mengapa Meyer ditangkap lagi.”

Buku Herzog ini boleh jadi isyarat mutakhir sebuah perubahan fundamental di kalangan rakyat Jerman dalam menyikapi sejarah tabu mereka selama beberapa dekade: kekejaman NAZI. Seiring dengan wafatnya generasi perang, anak dan cucu mereka memandang masa suram itu secara lebih obyektif. Mendobrak rambu-rambu yang semula dianggap tabu.

Tengok saja pada 2004, sebuah film berjudul Downfall yang mengisahkan detik-detik kejatuhan Hitler, justru memotret sisi humanisme Kanselir Jerman tersebut. Awal tahun ini, spanduk besar swastika terbentang di Berlin selama pemutaran perdana film komedi pertama tentang Hitler­-sesuatu yang mustahil terjadi beberapa tahun silam.

“Setiap generasi baru di Jerman terpikat dengan masa lalu negerinya,” ujar Herzog. “Karena itu kini tak ada lagi hal tabu.” Menurut Herzog, pada 1933 dan 1934, NAZI mengeluarkan aturan yang melarang warga mengkritisi rezim. Kendati di persidangan hasilnya cuma sebatas peringatan atau denda. Pasalnya alkohol kerap dianggap sebagai faktor peringan.

Tapi itu tak berlaku ketika kedigjayaan Bangsa Aria itu mulai melempem. Saat serdadu Panzer dipukul mundur dari Stalingrad dan bom-bom berjatuhan di seantero Jerman menyusul maraknya kampanye dunia internasional menentang sepak terjang Jerman.

“Humor-humor politik berujung pada tiang gantungan. Lelucon berakhir dengan eksekusi,” ujar Herzog. “Lelucon Yahudi terkenal akan ketajamanannya dan karakternya yang menggigit,” ujarnya. “Aku kini merindukan guyonan macam itu.”

“Apa yang akan kamu lakukan setelah perang berakhir?”

“Ah, akhirnya aku jadi juga pergi berlibur. Dan aku berencana berkeliling Jerman yang maha luas ini!”

“Dan apa yang akan kamu lakukan siang harinya?”

September ini sebuah buku kumpulan lelucon semasa NAZI berkuasa diterbitkan. Penulisnya, Rudolph Herzog, sutradara dan penulis naskah layar lebar Jerman, tak bermaksud mengocok perut pembaca. Ia cuma ingin mendobrak sejarah tabu Jerman seputar kehidupan Fuhrer (Pemimpin) Jerman Adolf Hitler. Sebuah upaya melepas ketegangan.

Hitler mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa. Begitu melihat Hitler, serentak para pasien memberinya salam: berdiri tegak seraya mengangkat tangan lurus ke muka. Saat ia melewati barisan seorang pria tak memberinya hormat. “Mengapa kamu tidak memberi hormat seperti yang lain?” Hitler menghardik. “ Mein Fuhrer (Pemimpinku), aku ini perawat, aku tidak gila seperti mereka!” jawab pria itu. Kendati, menurut buku baru ini, orang banyak memakai humor itu secara agak terbuka saat membicarakan Hitler dan kaki tangannya di awal Third Reich berkuasa, tapi tentu saja tak ada yang berani terang-terangan melontarkannya.

Sebuah lelucon bisa membuat orang tewas. Seorang pekerja di Berlin bernama Marianne Elise K. dihukum dan dieksekusi pada 1944 lantaran dituduh meremehkan semangat perang dengan melontarkan lelucon seperti ini:

Hitler dan Goring (Hermann Wilhelm Göring, orang kedua di NAZI) berdiri di puncak menara Radio Berlin. Hitler bilang ia ingin melakukan sesuatu guna menghibur warga Berlin. “Mengapa Anda tak meloncat saja ke bawah?” saran Goring.

Seorang kawan Marianne yang mendengar lawakan itu melaporkan ke pihak berwenang. Dan Marianne pun diringkus.

Penulis buku ini, sutradara film dan penulis naskah layar lebar terkemuka Jerman, Rudolph Herzog, tak bermaksud mengocok perut pembaca. Ia hanya ingin mengupas suatu periode di masa NAZI berkuasa dalam perspektif yang berbeda. Ia melihat lelucon pantas dipakai untuk menggambarkan perasaan rakyat yang sesungguhnya ketika itu.

“Lelucon mencerminkan kemarahan, kepura-puraan, dan kegirangan rakyat yang sesungguhnya,” kata Herzog, yang bukunya Heil Hitler, The Pig is Dead yang dipasarkan bulan ini. “Guyonan politik bukanlah bentuk sebuah perlawanan aktif tetapi katup pelampiasan kemarahan rakyat,” tutur pria 33 tahun ini.

Banyak di antara mereka yang sebal dengan Nazi bekerja sebagai pegawai papan atas di pemerintahan dan industri Jerman. Mereka tidak memberontak. Mereka cuma melontarkan lelucon segar:

“Seorang senior NAZI mengunjungi sebuah pabrik. Ia bertanya pada manajer di sana apakah masih ada di antara para pekerja yang mendukung Sosial Demokrat.

“Ya, 80 persen,” si manajer segera menjawab.

“Apakah ada yang mendukung Partai Pusat Katolik?”

“Ya, 20 persen,” manajer merespons.

“Tak adakah di antara kalian yang pengikut Sosialis Nasional?”

“Ya, kami semua NAZI!” Kesombongan para pembesar NAZI merupakan obyek utama dari segala guyonan:

“Göring menempelkan sebuah panah ke deretan medali di jubahnya. Tertulis di panah itu ‘berlanjut hingga ke belakang.’”

Lawakan seperti itu, kata Herzog, dianggap tak mengancam dan menentang NAZI. Herzog lantas membandingkannya dengan humor kelam seputar tiang gantungan yang beredar di kalangan kaum Yahudi pada 1930-an dan di masa perang:

“Dua orang Yahudi tengah bersiap dieksekusi dengan ditembak. Tiba-tiba datang perintah untuk segera menggantung mereka. Seorang terpidana mati itu membisiki kawannya “Kamu lihat, kan? Mereka kehabisan peluru.”

Di kalangan Yahudi, kata Herzog, lelucon seperti itu merupakan sebuah bentuk ekspresi keinginan untuk tetap hidup. “Saya tertawa maka saya masih tetap hidup,” kata Herzog yang bukunya dibuat berdasar catatan kesusateraan kontemporer, catatan harian, dan wawancara dengan 20 orang yang hidup semasa NAZI berkuasa.

Setelah melalui serangkaian proses pengumpulan data itu, sampailah Herzog pada satu kesimpulan: Sejak awal, rakyat Jerman benar-benar mahfum pemerintahnya kejam. Dan negeri itu tak sedang kerasukan “semangat kebrutalan” atau tersihir propaganda gemilang NAZI. “Rakyat yang terhipnotis tak akan membetas lelucon,” kata Herzog.

Lelucon tentang kamp konsentrasi Dachau­-dibuka pada 1933­-memperlihatkan bahwa rakyat tahu sejak awal mereka bisa masuk bui jika bertingkah mengungkapkan opini mereka:

Dua pria bertemu. “Senang melihatmu kembali bebas. Bagaimana rasanya berada di kamp konsentrasi?” tanya sang kawan. “Hebat! Sarapan diantar ke tempat tidur, bisa memilih kopi atau cokelat, dan untuk makan siang kami dapat sup, daging, dan hidangan pencuci mulut. Siang harinya kami bebas bermain, sehabis itu ngopi dan makan kue. Lalu kami tidur sejenak dan menonton film usai makan malam.”

Teman itu tercengang: “Luar biasa! Tapi ceritamu kok berbeda dengan Meyer yang juga ditahan di sana?”

Sambil manggut-manggut dengan sorot mata menerawang pria satunya bilang: “Ya, itulah sebabnya mengapa Meyer ditangkap lagi.”

Buku Herzog ini boleh jadi isyarat mutakhir sebuah perubahan fundamental di kalangan rakyat Jerman dalam menyikapi sejarah tabu mereka selama beberapa dekade: kekejaman NAZI. Seiring dengan wafatnya generasi perang, anak dan cucu mereka memandang masa suram itu secara lebih obyektif. Mendobrak rambu-rambu yang semula dianggap tabu.

Tengok saja pada 2004, sebuah film berjudul Downfall yang mengisahkan detik-detik kejatuhan Hitler, justru memotret sisi humanisme Kanselir Jerman tersebut. Awal tahun ini, spanduk besar swastika terbentang di Berlin selama pemutaran perdana film komedi pertama tentang Hitler­-sesuatu yang mustahil terjadi beberapa tahun silam.

“Setiap generasi baru di Jerman terpikat dengan masa lalu negerinya,” ujar Herzog. “Karena itu kini tak ada lagi hal tabu.” Menurut Herzog, pada 1933 dan 1934, NAZI mengeluarkan aturan yang melarang warga mengkritisi rezim. Kendati di persidangan hasilnya cuma sebatas peringatan atau denda. Pasalnya alkohol kerap dianggap sebagai faktor peringan.

Tapi itu tak berlaku ketika kedigjayaan Bangsa Aria itu mulai melempem. Saat serdadu Panzer dipukul mundur dari Stalingrad dan bom-bom berjatuhan di seantero Jerman menyusul maraknya kampanye dunia internasional menentang sepak terjang Jerman.

“Humor-humor politik berujung pada tiang gantungan. Lelucon berakhir dengan eksekusi,” ujar Herzog. “Lelucon Yahudi terkenal akan ketajamanannya dan karakternya yang menggigit,” ujarnya. “Aku kini merindukan guyonan macam itu.”

“Apa yang akan kamu lakukan setelah perang berakhir?”

“Ah, akhirnya aku jadi juga pergi berlibur. Dan aku berencana berkeliling Jerman yang maha luas ini!”

“Dan apa yang akan kamu lakukan siang harinya?”

Novel The Last Pope Ungkap Pembunuhan Paus Paulus I

Budi Setyarso - Komunitas Ruang Baca

Paus Johannes Paulus I, yang meninggal hanya 33 hari setelah dilantik menjadi pemimpin tertinggi Katolik pada 1978, diduga dibunuh. Ia yang secara resmi disebutkan terkena serangan hati diduga dibunuh karena berencana mereformasi secara radikal gereja.

Dugaan itu ditulis dalam sebuah novel, yang akan dipublikasikan tahun depan. Menurut penulisnya, Luis Miguel Rocha, 29 tahun, novel berjudul The Last Pope itu dibuat berdasarkan berbagai dokumen yang ia peroleh dari sumber di Vatikan.

Novel itu menguraikan secara rinci teori bahwa Paus Paulus I menjadi ancaman karena mengetahui pencucian uang yang melibatkan Bank Vatikan. Paulus I juga berencana meliberalisasi beberapa aspek doktrin gereja yang telah berusia berabad-abad.

"Ia ingin menjadi paus kaya yang terakhir. Paulus I ingin mendistribusikan kekayaan gereja, membuka gereja bagi perempuan, dan mengesahkan penggunaan alat kontrasepsi," kata Rocha menguraikan.

Novel mendeskripsikan pembunuhan Paulus I, sebagai hasil dari konspirasi yang melibatkan pejabat tinggi keuangan, sejumlah pemerintah negara Eropa, dan kelompok mafia. Mereka merekrut pejabat tinggi Roma, termasuk sekretaris pribadi Paus.

Penulisan novel ini menarik perhatian peserta Frankfurt Book Fair, pameran buku terbesar di dunia. Sedikitnya editor dari 50 negara menyatakan akan membeli hak cipta novel itu, kata penerbit Rocha.

Paus Johannes Paulus I meninggal pada 28 September 1978. Kematian ini menimbulkan berbagai spekulasi, karena perbedaan keterangan resmi dan faktanya. Apalagi, Vatikan menolak untuk melakukan otopsi.

Rocha bukan penulis pertama yang menulis seputar kematian Paus Paulus I. Pada 1984, penulis asal Inggris, David Yallop, menerbitkan In God's Name, yang menghubungkan kematian Paus Paulus I dengan korupsi di Bank Vatikan. Buku ini laku 6 juta kopi.

Namun, Rocha mengklaim, bukunyalah yang pertama ditulis berdasarkan dokumen dari Vatikan. "Ini buku fiksi yang berdasarkan fakta," kata editornya, Luis Corte Real.

Yang jelas, buku ini akan mengikuti jejak The Da Vinci Code karya Dan Brown yang terjual lebih dari 25 juta kopi di seluruh dunia.