Showing posts with label political-ecology. Show all posts
Showing posts with label political-ecology. Show all posts

17 January 2010

Ekodamai

BS Mardiatmadja | Opini | Kompas | Jumat, 15 Januari 2010

Perang Dunia III tak jadi pecah. Konfrontasi blok Timur dan Barat batal. Namun, Afganistan tidak kunjung damai. Di Iran dan Irak, kekerasan berkecamuk. Deutsche Welle mengutip ucapan: ”Kalau ada neraka di dunia ini, tentulah di tengah Afrika: di sana pembantaian terjadi di mana-mana oleh siapa pun.”

Film Avatar mungkin sarat dengan fiksi, tetapi nada dasarnya seperti menggemakan film The Mission dan perjuangan sekelompok orang di sejumlah bagian Papua sejak beberapa puluh tahun terakhir: konflik bersenjata yang dijiwai oleh kekerasan ideologis. (Sekelompok) orang dengan ideologi tertentu menggagahi orang (-orang) yang memiliki keyakinan lain. Tindak menggagahi itu kerap dikemas dengan kosmetik modern, seperti demokrasi, kebebasan berpendapat, dan persaingan sah. Terjadilah apa yang dulu sering disebut ”perang yang dapat dipertanggungjawabkan”. Terlalu cepat untuk mengatakan ada ”damai di atas bumi”. Di balik itu tersembunyi nafsu penghancuran semesta.

Maka, Paus Benediktus XVI mengubah slogan lama tentang damai dengan yang baru. Dulu orang bilang ”si vis pacem, para bellum” (bila mau damai, siap-siaplah perang). Benediktus XVI menawarkan ungkapan baru ”si vis pacem, protege creaturam" (bila mau damai, lindungilah ciptaan). Dengan ungkapan itu, seruan damai tradisional Paus di tanggal 1 Januari menangkap gerak dunia akhir-akhir ini: pelestarian ciptaan bukanlah sekadar alternatif; mencintai dan melestarikan ciptaan adalah suatu keharusan kalau kita mau damai.

Nyatanya, sejak akhir abad ke- 20 banyak pertempuran mengambil berbagai dalih yang bunyinya saja demokratis, tetapi pada intinya dasar perang akhir-akhir ini adalah perebutan sumber alam untuk memeras habis madu alam: pemiskinan ciptaan. Ekologi mutlak agar dunia jadi oikos kita bersama, rumah kita bersama: damai di Bumi.

Teringat kita bahwa Yohannes Paulus II sudah 20 tahun yang lalu mengingatkan dunia akan gawatnya masalah lingkungan. Bahkan, sesungguhnya Paulus VI pada tahun 1971 mengajak orang yang mau maju untuk mencintai alam semesta. Benediktus XVI, yang dahulu bernama Joseph Ratzinger, mempunyai pendahulu yang memandang ciptaan dan alam semesta dalam kaitan erat dengan hidup manusia; bahkan dengan panggilan rohani manusia. Teolog Jerman itu bernapas serupa dengan seorang Perancis, Pierre Teilhard de Chardin.

Kekudusan alam ciptaan

Pemikir yang lama menjadi peneliti di Tiongkok itu meninggal tahun 1966: seorang paleontologis, filsuf, teolog: menangkap gerak-gerak ilahi dalam seluruh pertumbuhan ciptaan. Kuburannya di Hyde Park menjadi tempat ziarah bagi banyak pencinta ekologi. Pada tahun 1981, pada ulang tahunnya yang ke-100, pendapat Teilhard diakui sebagai tepat, yakni bahwa ciptaan adalah hal kudus yang akan berkembang terus dan harus dilindungi. Teilhard menguraikan kekudusan alam ciptaan itu tidak dengan kutipan panjang dari Alkitab, melainkan dengan rentetan analisis ilmiah modern: lengkap dengan kupasan paleontologis, kimia, dan seterusnya.

Kudusnya alam ciptaan tampak dalam pandangan banyak bangsa di mana pun. Tentu saja film Avatar menghidangkannya dengan kecanggihan elektronik dan koreografi baru serta nada-nada New Age. Namun, paparan Avatar sudah lama dapat kita temukan dalam Kisah Penciptaan; ketika kepada manusia diserahkan tidak hanya alam semesta untuk dipergunakan, tetapi juga untuk dipelihara.

Dari pikiran Teilhard de Chardin terdapat sekurang-kurangnya sepuluh butir yang dapat dikembangkan dalam pelestarian lingkungan: bahwa ekologi mengupayakan alam sebagai arena demi kesejahteraan bersama; bahwa melindungi hutan adalah mutlak demi kesejahteraan seluruh dunia; bahwa menjaga keanekaragaman hayati merupakan prasyarat untuk kelestarian manusia; bahwa menjaga hidup binatang langka merupakan latihan rohani untuk pelestarian lingkungan; bahwa penghormatan suku terasing menjadi bentuk antropologi yang ekologis; bahwa keadilan ekonomis hanya dapat berjalan dengan keadilan ekologis; bahwa komunitas manusiawi terbentuk hanya dalam lingkungan alami yang sehat; bahwa tanggung jawab sosial dan ekologis adalah prasyarat industri lestari; bahwa manusia hanya akan terus hidup kalau menjaga energi dan mencari cara baru membangun energi; bahwa masyarakat hanya berkembang kalau diciptakan rekreasi dan transportasi yang ekologis; bahwa ekologi hanya dapat berkembang kalau manusia menghormati budaya asli dan kesatuan manusia dengan alam. Hanya dalam semua itu damai dapat diusahakan.

”The Mission”

Pada abad ke-17-18 orang Iguarani di Paraguay disodori dua macam perkembangan: yang satu adalah pembangunan yang mulai dengan pendidikan menyeluruh, seperti yang dilakukan Gabriel dan komunitasnya. Mereka mengajari orang Indian itu bercocok tanam dan memiliki pertanian serta perkebunan sendiri; bahkan mereka mendidik anak-anak sehingga menjadi cerdas dan memiliki selera seni yang semakin indah.

Model pembangunan masyarakat lainnya menjadikan orang Guarani sebagai alat untuk mencari keuntungan bagi orang Eropa. Mereka adalah tenaga murah yang dapat menolong mengambil hasil bumi sebanyak mungkin demi kepentingan pendatang. Perbedaan cara pembangunan itu menyeret juga perselisihan antara para pemuka agama dan politisi di Eropa. Tidak perlu menunggu lama: terjadilah perang. Itulah yang ditayangkan oleh film The Mission, yang mendapat banyak penghargaan di beberapa pusat seni dan menjadi pangkal studi banyak seminar.

Rebutan sumber daya alam seperti itu bukan hanya tidak berhenti pada abad ke-18, tetapi bahkan semakin meluas dan semakin brutal pada abad ke-19 dan ke-20; abad ke-21 belum terbebaskan dari pertikaian ekonomi dan politis dengan pangkal rebutan sumber daya alam dan dengan akibat perusakan alam yang semakin lama semakin parah.

Kata Iguarani dapat diganti dengan pelbagai nama suku di banyak tempat di seluruh dunia. Paraguay dapat saja pindah ke sembarang tempat di pulau subur di setiap benua, termasuk Indonesia. Banyak suku bangsa memandang alam sebagai ibu, seperti kita dulu sering menyebutnya Ibu Pertiwi. Tidak sedikit yang memandang pelindung kesuburan tanah, seperti Dewi Sri, pantas dihormati sebagai sebuah sikap batin untuk menghormati alam.

Hal serupa berlaku di Jawa, Amungme, Na’vi, dan seterusnya. Semua merujuk pada sikap sama: menghormati alam semesta. Orang yang mencintai kemajuan bangsa manusia secara menyeluruh, dengan segala analisis ekologisnya, memiliki sikap hormat pada alam secara sama: amat berbeda dengan mereka yang melihat bumi sebagai tempat yang harus diisap habis madunya demi keuntungan finansial jangka pendek. Rebutan sumber daya alam itu sejak beberapa abad dan semakin lama semakin ganas menyebabkan terjadinya konflik tersembunyi atau terbuka di PBB dan seluruh dunia.

”Si vis pacem, protege creaturam”, ”bila mau damai, lindungilah ciptaan” adalah seruan yang pantas mendapat perhatian kita, yang mencintai Pertiwi, menyayangi perdamaian, dan menghendaki kemajuan yang lestari. Itulah juga harapan yang layak dikemukakan pada awal tahun 2010.

BS Mardiatmadja, SJ Rohaniwan

03 June 2007

Who should own Indonesia's forests?

Awicaks

Bukan 'uncertain tenurial arrangement' seharusnya yang digunakan oleh penulis, tetapi sistem tenurial yang tak jelas, saling bertumbukkan dengan realita sosial masyarakat Indonesia.
clipped from www.csis.or.id

By Raymond Atje and Kurnya Roesad

February 3, 2004



The existing economic incentive regime was one main factor behind high deforestation rates in Indonesia. Government intervention to push for the expansion wood processing industries resulted in unsustainable resource use patterns. Uncertain tenurial arrangements and property rights, unenforceable contractual obligations and weak monitoring and enforcement by the government exacerbated the situation. Indonesia's existing forest management system does not provide efficient structures of control rights to any of the sector's many stakeholders. The lack of well-defined property rights has prevented various stakeholders from trading their control rights so as to improve the efficiency of the management. Future economic research on forestry issues in Indonesia could therefore highlight the importance of secure property and ownership rights in any strategies to implement sustainable forestry management.

 blog it

Ikhtisar - Economic crisis and trade liberalization: A CGE analysis on the forestry sector

Awicaks

Sektor kehutanan adalah sektor yang dipelihara oleh lembaga-lembaga keuangan internasional (international financial institutions, IFIs) mengingat pentingnya peran sektor ini dalam memastikan dikuasainya lahan produktif oleh Negara untuk kepentingan investasi.
clipped from www.csis.or.id

By Tubagus Feridhanusetyawan and Yose Rizal Damuri

February 6, 2004



This paper uses simulations based on a GTAP model to reproduce the economic crisis in Southeast Asia, and in particular in Indonesia. The model is a static-real sector model, so the focus of the simulation is on the declining investment and the declining prices of non-traded goods during the crisis. The simulation is conducted by creating an exogenous shock on risk premium in Indonesia, Thailand and Malaysia, which leads to smaller allocation of regional investment in these countries, lower stock of capital goods, and lower production. The second shock, which is the declining price of land and natural resource, opens the possibility of resource allocation between sectors in the economy.

Economic crisis and trade liberalization: A CGE analysis on the forestry sector

blog it

11 February 2006

Info Buku: Gender, Bahasa dan Kekuasaan

Informasi Buku

Judul buku: Gender, Bahasa dan Kekuasaan
Penulis: Esther Kuntjara, Ph D
Penerbit: Universitas Kristen Petra Surabaya dan penerbit PT BPK Gunung Mulia Jakarta
Tahun terbitan: 2004
Tebal: ix+117 halaman.

Sejak munculnya berbagai gerakan perempuan pada pertengahan abad ke 20 hingga sekarang,para pakar di bidang linguistik, antropologi budaya, sosiologi, psikologi, komunikasi dan banyak disiplin lain mulai mencari hubungan antara bahasa dan seks. Mereka juga melihat bagaimana peranan perempuan dan laki-laki dalam budaya mempengaruhi gaya bicara mereka. Benarkah perempuan lebih banyak bicara [cerewet] dibanding laki-laki? Apakah kosa kata yang kita pakai sehari-hari berbias gender dan sering merugikan perempuan dan membuat keberadaan perempuan tersembunyi? Apakah benar gaya bicara laki-laki lebih bersifat agresif sedang perempuan lebih lembut dan menunjukkan keakraban? Benarkah perempuan lebih sopan dibanding laki-laki sehingga mereka harus menggunakan bahasa yang halus dan sopan, sedangkan laki-laki lebih bebas menggunakan bahasa apa saja? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menjadi menarik untuk disimak dan dipelajari.

Esther Kuntjara, PhD menyelesaikan stud S1 jurusan Bahasa Inggris di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga tahun 1982. Bersama suami dan kedua anaknya,penulis berangkat ke Amerika Serikat tahun 1985. Sambil menyertai suami yang mengambil S3 di California, penulis menyelesaikan studi S2 dibidang TEFL di San Fransisco State University. Program itu diselesaikannya pada tahun 1988. Sekembali ke Indonesia, penulis mengajar bahasa Inggris di Universitas Kristen Petra Surabaya. Pada tahun 1990-1993 penulis dipercayakan mengemban tanggung jawab sebagai Dekan fakultas sastra UK Petra Surabaya.Pertengahan tahun 1993,penulis menerima beasiswa dari United Board ke Amerika Serikat sebagai dosen tamu di Central College, Iowa, selama satu tahun. Tahun 1997 penulis kembali ke Amerika Serikat untuk mengambil S3 di Indiana University of Pensylvania di bidang Rhetoric and Linguistics dengan disertasi" A Sociolinguistic Study of Two Chinese Indonesian Mother-Daughter Pairs in Surabaya". Studi S3 diselesaikan tahun 2003. Selama studi di IUP, penulis memperoleh penghargaan menjadi anggota dari Honor Society of Phi Kappa Phi. Beberapa tulisannya yang banyak berkisar tentang gender dan bahasa sudah dimuat di jurnal-jurnal nasional maupun internasional. Penulis juga sering memberi presentasi ilmiah baik didalam maupun di luar negeri.

Untuk informasi pembelian, kontak Penerbit PT BPK Gunung Mulia, Jl. Kwitang 22-23 Jakarta 10420. Telp 021- 3901208 Fax 021- 3901633. email: publishing@bpkgm.com

05 February 2006

Membaca Pulau Jawa: Catatan Awal dari "Land Use and Environment in Indonesia"

Awicaksono

Buku tua yang ditemukan Torry di Perpustakaan WALHI akhirnya selesai saya baca secara selektif. Saya memfokuskan bacaan saya pada pulau Jawa, serta paparan tentang isu-isu nasional yang terkait dengan pulau Jawa.


Sebagai pulau utama terkecil dibandingkan pulau-pulau utama lain di kepulauan Indonesia, pulau Jawa merupakan yang paling padat penduduknya. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari dinamika demografik sejak masa kerajaan Hindu, kerajaan Islam serta masa pendudukan Belanda. Modalitas dari seluruh cerita terkait dengan dinamika demografik pulau Jawa adalah tanah dan kekayaan alam, berikut posisi geopolitiknya terhadap lalu lintas perdagangan baik di masa lalu hingga sekarang. Saat ini total populasi pulau adalah 60% dari populasi Indonesia, dengan tingkat kepadatan 864 jiwa/km2. Pulau Jawa adalah wilayah terpadat penduduknya nomor dua setelah Bangladesh.

Beberapa catatan sejarah yang cukup mengagumkan saya peroleh sebelumnya dari sebuah buku berjudul "Beneath Smoke of the Sugar-Mill," yang merupakan hasil kolaborasi penelitian para akademisi dari Belanda, Jepang dan Indonesia. Dari penelitian kolaboratif tersebut terungkap bahwa bangkrutnya tata-guna lahan asli sudah dimulai sejak introduksi perkebunan besar oleh East Indies Companies atau VOC, lewat perkebunan tebu, teh, kopi dan tembakau. Meski sebelumnya masalah penguasaan tanah sudah terjadi antara rakyat dengan penguasa-penguasa monarkhis pada masa kerajaan Hindu dan Islam, tetapi era perkebunan besar di awal abad 18 sangat berpengaruh kepada rona tata-guna lahan pulau Jawa hingga sekarang.

Dalam buku "Land Use and Environment in Indonesia" (Wolf Donner, 1987) masa itu tidak terlalu rinci diuraikan. Buku ini lebih menyorot persoalan-persoalan yang timbul akibat Revolusi Hijau di awal 70an serta percepatan investasi industri, baik manufaktur, perkayuan, perkebunan maupun pertambangan (mineral dan minyak bumi). Namun benang merah preferensi penanaman modal terhadap pulau Jawa sejak masa pendudukan Belanda hingga sekarang diurai cukup mendalam. Antara lain ketersediaan sarana dan prasarana pendukung investasi, seperti jalan, pelabuhan laut serta ketersediaan buruh.

Meski tak memenuhi harapan saya, paling tidak buku ini memberi beberapa hyperlinks menuju beberapa rujukan lain. Yang sudah antri untuk dilahap adalah "The Ecology of Java and Bali." Buku ini pernah saya baca sebelumnya saat terlibat dalam penyiapan "Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan 2003," tetapi saat itu pendekatan saya terlalu topikal. Agaknya saya harus memulai lagi dari nol...

Jakarta, 5 Februari 2006

01 February 2006

Space, Culture and Power: New Identities in Globalizing Cities

Informasi buku dari Zed Books

Judul: Space, Culture and Power: New Identities in Globalizing Cities Penyunting: Ayse Oncu dan Petra Weyland Penerbit: Zed Books Tahun terbitan: 1997 ISBN: 1856495043 Jumlah halaman: 224


Large cities in both North and South are caught in the contradictory logics of globalization and localization. This book looks at how ethnic minorities, tribal groupings and marginalised subcultures in urban areas appropriate contemporary discourses - of consumerism, Islam, human rights - to voice new cultural alternatives. Through a variety of cities, including Beirut, Berlin, Cairo, Istanbul, Manila and Singapore, it explores how social and cultural boundaries are renegotiated as new social networks of global trade and finance create new opportunity spaces. In doing so, the authors demonstrate how the global is translated by different groups of urban actors into practices which transform the physical as well as social and cultural spaces of the city.
‘Fascinating and original studies of cities as diverse as Singapore and Istanbul, prominant poles in the processes of globalizaiton, yet here considered in their particularities and minutiae of communities and neighborhoods, constructing their living and symbolic spaces in the web of powers, constraints and opportunities generated by the interaction of the global, the national and the local. These are refreshing perspectives.’ - Sami Zubaida, School of Oriental and African Studies
‘Rrefreshing and timely... this book enriches current debates with perspectives ‘from below’ drawn from diverse metropolitan contexts ranging from Istanbul, Cairo and Beirut to Manila and Singapore. Alongside offering the reader a wealth of much-needed empirical material, it makes an important analytic contribution by insisting on a sophisticated and dynamic understanding of processes of ‘localization’, not as inert, resistive or residual, but as actively shaping the outcomes of globalization’ - Deniz Kandiyoti, School of Oriental and African Studies
Contents

1. Introduction: Struggles Over ‘Lebensraum’ and Cultural Identity in Globalizing Cities- Ayse Öncü & Petra Weyland

PART I: Global Visions and Changing Discourses of Power
2. Between Economy and Race: Asianization of Singapore - Beng Huat Chua
3. On Two Conceptions of Globalization: the Debate Around the Reconstruction of Beirut - Suzanne Kassab
4. The Myth of the ‘Ideal Home’: Travels Across Cultural Borders to Istanbul - Ayse Öncü

PART II: Symbolism of Space and the Struggle for ‘Lebensraum’
5. Culture Shock and Identity Crisis in German Cities - Ulrich Mai
6. Gendered Lives in Global Spaces - Petra Weyland
7. The Metropolitan Dilemma: Global Society, Localities and the Struggle for Urban Land in Manila - Erhard Berner

PART III: Rediscovering Islam Through the Prism of the Local
8. Re-imagining the Global: Location and Local identities in Cairo - Farha Gannam
9. Formation of a Middle-class Ethos and its Quotidian: Revitalizing Islam in Urban Turkey - Ayse Saktanber
10. Tribesmen in the Global City: The Remolding of a Cultural and Political Identity - Gunter Seufert
11. Travelling Islam: Mosques without Minarets in the Netherlands - Jan Nederveen Pieterse

Bibliography
Index

29 January 2006

Climate Change Policy: A Survey

Dirujuk dan diterjemahkan dari CESP - Books and Book Chapter

Informasi Buku

Judul buku: Climate Change Policy: A Survey
Penulis: Stephen H. Schneider , Armin Rosencranz, John O. Niles (editor)

Penerbit: Island Press

Tahun terbitan: 2002

ISBN: 1559638818


Pertanyaan-pertanyaan di sekitar isu perubahan iklim tumbuh mulai dari "Apakah ini sungguh terjadi?" hingga "Apa yang dapat kita lakukan?" Kendala utama untuk menangani isu ini pada situasi sekarang bukanlah perkara ilmiah tetapi justru perkara politik dan ekonomi; jelas bahwa jalan keluar yang cepat sangat tidak mungkin.

Ketidaktahuan dan kebingungan menyangkut isu, termasuk kurangnya pemahaman mendasar tentang perubahan iklim, dampaknya terhadap lingkungan hidup dan masyarakat manusia, serta kisaran pilihan-pilihan kebijakan yang tersedia, menyumbang kepada kekacauan-kekacauan politis dalam penanganan perubahan iklim. Kebijakan perubahan iklim mencoba menelaah situasi yang ada dengan mengangkat secara bersama-sama pemikiran-pemikiran baru dari para ahli terkemuka yang mengkaji isu ini dari berbagai dimensi, utamanya dalam membangun pemahaman tentang perubahan iklim dan kebijakan untuk menanganinya. Bab-bab buku ini mempertimbangkan:
  • ilmu iklim dari perspektif sejarahnya
  • kajian-kajian tentang ketidakpastian dalam khasanah ilmiah dan kebijakan iklim
  • sisi ekonomik kebijakan iklim
  • isu-isu keadilan Utara-Selatan dan antargenerasi
  • peran dunia usaha dan industri dalam upaya pencarian jalan keluar isu iklim
  • mekanisme kebijakan, meliputi pelaksanaan bersama (joint implementation), perdagangan emisi (emissions trading), dan apa yang disebut dengan mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism)
Terlepas dari naik-turunnya status Protokol Kyoto, isu-isu yang terus terangkat dalam debat ini akan tetap berlangsung mengingat rejim-rejim perlindungan iklim yang baru terus bermunculan; buku ini mencoba untuk merangkumnya sekaligus. Mengaitkan bab-bab buku ini secara bersama-sama muncullah sebuah kesimpulan bersama bahwa perubahan iklim adalah ancaman yang sungguh-sungguh dan serius, dan bahwa kita sebagai bagian dari masyarakat dunia memiliki kewajiban tidak hanya untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut, tetapi juga untuk mengurangi dampak-dampaknya menggunakan cara yang paling cerdas yang dapat dikembangkan. Efektifitas biaya jadi tidak relevan ketika kita bicara tentang prospek kerugian jangka panjang dan masa depan yang luar biasa besar.

Download sebagian bab buku ini, silakan ke sini.